Kamis, 03 November 2011

Perbedaan Agama, Ilmu dan Filsafat


Pengertian ilmu.
Ilmu secara etimologi berarti tahu atau pengetahuan. Kata ilmu dari bahasa Arab, dan kata science dari bahasa latin. Tetapi secara terminologi adalah semacam pengetahuan yang memiliki ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat tertentu. Dari berbagai pendapat-pendapat para ahli mengenai definisi ilmu dapat di ambil kesimpulan, bahwa ilmu adalah merupakan pengetahuan yang bercirikan antara lain ; sistematik, rasional, empiris dan bersifat kumulatif (bersusun). Ilmu sebagai produk akal manusia mempunyai ciri lain, yaitu sifatnya yang relatif, sehingga tidak ada kata final dalam produk ilmu. Kebenaran ilmu tidak bersifat mutlak sehingga terbuka kesempatan setiap saat untuk memperbaiki dirinya.
Tuhan menciptakan alam dengan segala isinya denga tujuan agar manusia mengolah dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan dan kemakmurann manusia, firman Allah SWT dalam surat Hud ayat 61:

61.  Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[1], Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).
Begitu pentingnya ilmu di mata Allah, sehingga Ia memerintahkan Nabi-Nya berdoa agar memperoleh lebih banyak ilmu; doa itu berbunyi, ”Ya Tuhanku, perbanyaklah ilmuku”. Di mata Nabi, ilmu lebih utama daripada berdoa, sebab Nabi bersabda, ”Bagi manusia, satu jam mempelajari ilmu, adalah lebih baik daripada berdoa selama enam puluh tahun.” Oleh karena itu ilmu harus dicari, bahkan jika orang harus pergi keujung dunia pun, menjadi jelaslah bahwa perintah Nabi itu tidak membatasi pengetahuan hanya kepada belajar dan mengajar ilmu hukum islam. Selanjutnya dapat diketahui pula, bahwa islam mengutamakan baik ilmu rasional maupun ilmu empiris. Tiada dogma, bagaimanapun keramat dan tuanya, dapat diterima dalam islam dan bagi umat islam, kecuali jika tahan uji rasio.
berulang kali Al-Quran menantang kaum penganut kepercayaan yang palsu ” Untuk mennjukan bukti-bukti kebenarannya”. Al-Quran menganggap pentingnya bukti dan keshahihan, sehingga menasihatkan orang-orang yang beriman agar tidak menerima sesuatu yang diluar pengetahuan mereka. Ayat suci-Nya berbunyi, ”Janganlah menuruti sesuatu yang engkau tidak tahu apa-apa tentangnya. Sesungguhnya, telinga, mata dan akal akan bertanggung jawab untuk itu.”
Selain sebagai hasil produk brfikir, ilmu juga sebagai alat pengembangan daya fikir. Di sini ilmu tidak dilihat sebagai produk yang siap dikonsumsi, akan tetapi memjadi sebuah proses (kata kerja), maka leih tepat menjadi keilmuan. Al-Quran dalam berbagai variasi, antara lain sebagimana terdapat dalam surat Al-Hasyr ayat 29 :

Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.
Dan Surat Al-Mu’minun ayat 78-80 :

78.  Dan dialah yang Telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. amat sedikitlah kamu bersyukur[2].
79.  Dan dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi Ini dan kepada-Nyalah kamu akan dihimpunkan.
80.  Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?
Mengambil itibar, mengakali (memikirkan dengan aka) adalah kata yang digunakan oleh Al-Quran untuk merangsang manusia agar senantiasa rajin membiasakan diri untuk berpikir secara keilmuan, secara teratur, bermetode dan bertujuan untuk mendapatkan ilmu (pengetahuan).
Untuk dapat mempresentasikan sumbangan yang diberikan Al-Quran kepada kelahiran dan perkembangan metode ilmiah, marilah kita perhatikan persyaratan-persyaratan ilmu. Yang pertama adalah pengakuan atas kenyataan bahwa setiap manusia, telepas dari kasta, kepercayaan, jenis kelamin atau usia, memiliki hak yang tidak dapat diganggu gugat lagi unuk mencari ilmu. Persyaratan kedua, bahawa metode ilmiah itu tidak hanya pengamatan, akan tetapi juga sistematis dan teori. Ilmu mengamati fakta-fakta, mengklasifikasikannya, menunjukan hubungan-hubungan diantaranya, lalu menggunakannya sebagai dasar untuk teori. Persyaratan ketiga adalah bahwa setiap orang harus mengakui bahwa ilmu berguna dan berarti baik untuk individu maupun ditingkat sosial.
mengenai persyaratan pertama, telah kita lihat bahwa Al-Quran memberikan tekanan yang besar kepada soal pencarian ilmu oleh semua orang, Al-Quran barang kali merupakan kitab agama pertama dalam sejarah manusia yang dapat dicatat, yang secara terbuka mengakui hak setiap orang untuk belajar dan memperoleh ilmu dari jenis apa pun. Mengenai persyaratan kedua, dapat dikatakan bahwa sejak awalnya manusia sudah mulai mengamati berbagai fenomena alam, akan tetapi masih diperlukan kematangan akal agar dapat menafsirkan fenomena-fenomena itu dan menyusun sebuah teori darinya. Mengenai persyaratan ketiga, yang menekankan pentingnya pengetahuan ilmiah dan kesahihan pengalaman inderawi, dapat dikatakan bahwa kebanyakan peradaban yang pernah ada di dunia sebelum lahirnya islam mengajarkan dan menekankan perlunya manusia menolak dunia dengan segala hal yang berkaitan dengannya. Akibatnya, demi kehidupan yang lebih baik, orang menjauhkan diri dari dunia dan dalam beberapa hal bahkan menyesali dirinya yang telah dilahirkan dalam wujud jasmani dengan segala hawa nafsunya.

Pengertian filsafat.
Poedjawijatna[3], mendefenisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka. Berbagai teori telah dikemukakan mengenai asal-usul filsafat, salah satu di antaranya bahwa filasafat adalah sebuah proses berpikir yang mendalam sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan sang pemikirnya.
Filsafat terdiri atas tiga cabang yaitu : Ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi membicarakan hakikat (segala sesuatu), yaitu berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu. Epistemologi, cara memperoleh pengetahuan itu. Aksiologi, membicarakan guna pengetahuan itu. Salah satu filsafat yang masih baru ialah filsafat perenial, adalah filsafat yang dipandang dapat menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki, menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalani hidup benar, yang menjadi hakikat seluruh agama dan tradisi benar spiritualitas manusia. Adanya suci atau yang satu dalam seluruh manifestasinya seperti dalam agama, filsafat, seni, dan sain. Filsafat perenial bukan berarti tidak menghargai akal. Namun dalam menghargai akal itu yang dihargai ialah orang yang menggunakannya bukan pada kemampuan akal itu. Etika adalah kumpulan petunjuk untuk mengefektifkan usaha transformasi diri yang akan memungkinkan untuk mengalami dunia dengan cara baru. Isi etika adalah bentuk-bentuk kerendah hatian, kedermawanan, ketulusan.
Filsafat dibagi tiga, yaitu filsafat yunani kuno yang didominasi rasionalisme, filsafat abad tengah yang didominasi oleh pemikiran tokoh Kristen, ketiga filsafat modern yang didominasi oleh rasionalisme. Namun akhir-akhir ini muncul filsafat keempat yaitu filsafat pascamodern. Filsafat pascamodern didominasi oleh rasionalisme, rasionalisme ialah paham filsafat yang mengatakan akal itulah alat pencari dan pengukur kebenaran.
Epistemologi Filsafat mempelajari tiga hal yaitu objek filsafat, cara memperoleh filsafat dan ukuran kebenaran filsafat.  Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh objek apa yang ditelitinya. Cara memperoleh filsafat ialah berfikir.  Seorang ahli bernama Locke, telah meneliti akal, ia berkesimpulan bahwa yang dapat kita ketahui ialah materi karena itu materialisme harus diterima, atau David hume berkesimpulan bahwa jiwa itu bukan substansi, tetapi suatu organ yang memiliki idea-idea, jiwa sekedar suatu nama yang abstrak untuk menyebut rangkaian idea. Untuk memperoleh pengetahuan filsafat ialah berfikir dengan akal, kerja akal ialah berfikir secara mendalam untuk menghasilkan filsafat.  Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis tidaknya teori itu. Ukuran logis terlihat dari argument yang menghasilkan kesimpulan. Argumen menjadi kesatuan dengan konklusi.
Aksiologi Pengetahuan Filsafat, Disini akan diuraikan dua hal, yaitu pertama, kegunaan pengetahuan filsafat dan kedua, cara filsafat menyelesaikan masalah. Untuk mengetahui kegunaan filsafat kita dapat melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, filsafat sebagai metode pemecahan masalah dan filsafat sebagai pandangan hidup.
Mempelajari filsafat sebagai kumpulan teori sangat penting karena dunia dibentuk oleh teori-teori itu. Filsafat sebagai metode pemecahan yaitu filsafat digunakan sebagai satu cara atau model pemecahan masalah secara mendalam dan universal, selalu mencari sebab terakhir dan dari sudut pandang seluas-luasnya. Filsafat sebagai pandangan hidup sama dengan agama, dalam hal yang sama mempengaruhi sikap dan tindak penganutnya.
Kegunaan filsafat sebagai akidah
Akidah seorang muslim haruslah kuat, dengan kuat akidah akan kuat pula keislamannya secara keseluruhan. Untuk memperkuatnya diperlukan pengamalan keseluruhan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dan mempertajam pengetahuan islam sendiri.  Namun dapatkah filsafat memperkuat pemahaman kita tentang Tuhan. Tuhan tidak dapat dipahami melalui akal, Tuhan dapat dipahami melalui suara hati yang disebut moral.
Kegunaan Filsafat bagi Hukum
Hukum Islami yang dijadikan aturan beramal ada di dalam fiqih sebagai kumpulan hukum yang dibuat berdasarkan kaidah-kaidah hukum yang digunakan untuk menetapkan hukum tersebut. Ternyata kaidah-kaidah pembuatan hukum (ushul fiqih) itu dibuat berdasarkan teori-teori filsafat. Jadi memang benar filsafat sebagai metodologi berguna bagi pengembangan hukum dalam hal ini hukum Islami.
Kegunaan Filsafat bagi Bahasa
Bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. Tatkala bahasa berfungsi sebagai alat berfikir ilmiah, muncul problem yang serius dan ini diselesaikan antara lain dengan bantuan filsafat. Bahasa sering tidak mampu membebaskan diri dari gangguan pemakainya, kerusakan bahasa tersebut biasanya disebabkan oleh tidak digunakannya kaidah logika, logika itu filsafat. Kekeliruan dalam berbahasa melahirkan kekeliruan dalam berfikir. Untuk itu filsafat sangat berperan dalam menentukan kualitas bahasa. Tanpa peran serta filsafat (logika) kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki.
 Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah
Kegunaan filsafat ialah sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia. Penyelesaian filsafat bersifat mendalam, artinya ia ingin mencari asal masalah. Universal, artinya ia ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.


Pengertian agama.
 Dalam bahasa arab, agama adalah Al-Dien. Agama merupakan sandaran bagi pemeluknya dalam menjalankan segala aktifitas dan kehidupan dalam kesehariannya, dalam Al-Quran dinyatakan; ”Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah agama Islam”. Agama adalah sebuah identitas bagi pemeluknya, misalnya orang yang memeluk agama islam disebut dengan muslim, orang yang memeluk agama kristen maka disebut kristiani, dan lain sebagainya. Masing-masing agama mempunyai aturan-aturan masing-masing pula, akan tetapi pada dasarnya terlebih dalam urusan kehidupan sosial mempunyai pandangan dan aturan yang sama yaitu saling berbuat baik hanya terkadang motifnya yang berbeda. Islam sangat peduli terhadap pemeluknya, dalam menjalani kegiatan sehari-hari islam selalu memberikan petunjuk dalam menjalankannya. Ketika mendapatkan kesulitan, islam memberikan kabar gembira yang merupakan janji dari Allah kepada umatnya yang tetap menjalankan ritual ibadahnya walaupun dalam keadaan sulit, dalam surat Al-Insyirah ayat 05-06 :

5.  Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6.  Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
seorang sekularis[4], mengatakan bahwa agama pada mulanya didasarkan pada pengalaman rahmat, rahmat yang memperbaharui kecenderungan manusia untuk berharap, dan bahwa pengalaman yang diperbahrui tersebut terjadi pada alam prasadar atau ”imajinatif yang kreatif”. Sebuah lambang agama adalah sebuah gambar atau bayangan yang menggemakan dan mengartikulasikan serta menghadirkan kembali pengalaman rahmat. Ia juga digunakan untuk membagikan pengalaman tersebut pada orang lain dengan menghadirkan kembali orang lain pengalaman parelel yang mereka miliki.

Perbedaan dan Korelasi antara ilmu, filsafat dan agama yang mendasar.
pada mulanya filsafat dengan ilmu adalah satu dan sinonim. Segala macam ilmu (pengetahuan) pada muilanya adalah termasuk dalam bidang filsafat. Tetapi lama kelamaam ilmu satu demi satu memisahkan diri dari filasafat dan berdiri sendiri sebagai salah satu cabang ilmu. Misalnya Fisika yang menjadi salah satu bagian filsafat berdiri menjadi Ilmu Fisika. Masalah jiwa yang semula menjadi lapangan filsafat memisahkan diri dari induknya dan berdiri menjadi Ilmu Jiwa (Psikologi). Politik sebagai bagian filsafat tentang manusia berdiri menjadi Antropologi. Falsafah tentang moral (etik) menjadi Ilmu Etika, dan seterusnya. Demikianlah bidang-bidang yang digarap oleh filsafat lama kelamaan memisahkan dirinya dan berdiri menjadi salah satu disiplin ilmu pengetahuan.
Filsafat dan ilmu mendapat tempat yang layak dan sama sekali tidak bertentangan secara prinsip dengan ajaran-ajaran islam (agama). Bahkan sebaliknya Al-Quran secara tegas memberikan kemungkinan-kemungkinan bagi pemikiran-pemikiran filosofis tersebut. Ayat-ayat Al-Quran yang menyuruh manusia menggunakan pemikirannya dengan menjadikan alam semesta sebagai objek pikirannya, di samping mendorongnya ilmu yang amat berguna buat kemakmuran hidup manusia, juga merangsang munculnya pemikiran-pemikiran filosofis dalam islam (agama).
Filsafat dapat mencapai kebenaran dan kalau dapat bagaimana kapasitas kebenaran yang dapat dicapainya itu dibandingkan dengan kebenaran wahyu. Hal ini telah menjadi ajang perdebatan  di kalangan kaum muslimin sejak mereka mengenal filsafat dari yunani. Tujuan mempelajari filsafat dalam islam adalah agar kita dapat mengambil manfaat dari akal yang bermacam-macam itu untuk kekuatan dan kejayaan islam sendiri.
Agama mengajarkan bahwa kebenaran hakiki (Al-Haqq) hanyalah berasal dari tuhan dan bahwa apa yang berasal dari tuhan adalah kebenaran yang pasti. Ayat-ayat Al-Quran berikut ini menjadi dasar dari pendapat tersebut itu :
Surat Al-Baqarah ayat 26 :

26.  Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan Ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Surat Ali Imran ayat 60 :

60.  (apa yang Telah kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.
Surat Al-Kahfi ayat 29 :

29.  Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Akan halnya filsafat yang juga dianggap dapat membawa kepada kebenaran, maka islam mengakui bahwa selain kebenaran yang hakiki, masih ada lagi kebenaran yang besifat absolut, yaitu kebenaran yang dicapai sebagai hasil usaha akal budi manusia. Kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif karena ia berbicara tentang hal-hal yang abstrak yang tidak dapat dieksperimenkan, tidak dapat diuji dan atau diriset. Sedangkan kebenaran ilmu adalah kebenaran positif karena dapat diuji secara empiris. Tetapi kedua-duanya tetap bernilai nisbi karena keduanya adalah produk akal budi yang juga bersifat nisbi.
 
DAFTAR PUSTAKA

Greeley, Andrew M, Agama Suatu Teori Seluler, Jakarta: Airlangga, 1988.
Rasjidi, M, C.S, Islam Untuk Disiplin Ilmu Filsafat, Jakarta: Depag RI, 1997.
Qadir, C.A, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Jakarta: Pustaka Obor Indonesia, 2002.
www.wikipedia.com
LEMBAR CATATAN


[1] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.
[2]yang dimaksud dengan bersyukur di ayat Ini ialah menggunakan alat-alat tersebut untuk memperhatikan bukti-bukti kebesaran dan keesaan Tuhan, yang dapat membawa mereka beriman kepada Allah s.w.t. serta taat dan patuh kepada-Nya. kaum musyrikin memang tidak berbuat demikian.
[3] Depag RI, islam untuk disiplin ilmu filsafat,1997.
[4] Andrew M. Greeley, Agama: Suatu Teori Sekular,Jakarta:Airlangga, 1988.  hal.45.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar