Kamis, 03 November 2011

FIQH MUNAKAHAT


HAK DAN KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAKNYA DAN SEBALIKNYA. (HADHANAH)
Hadhanah berasal dari kata ”Hidhan”, artinya: Lambung. Para ahli fiqh mendefinisikan Hadhanah ialah Melakukan pemeliharaan terhadap anak-anak yangmasih kecil laki-laki ataupun perempuan atau yang sudah besar , tetapi belum tamyiz, tanpa perintah daripadanya, menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikannya, menjaganya dari sesuatu yang menyakitinya atau merusaknya, mendidik jasmani, rohani dan akalnya agar dapat berdiri sendiri menhadapi hidup dan memikul tanggung jawab.
Mengasuh anak-anak yang masih kecil hukumnya adalah wajib. Sebab mengabaikannya berarti menghadapkannya kepada bahaya kebinasaan. Hadhanah adalah hak bagi anak yang masih kecil, karena ia membutuhkan penjagaan, pelaksana urusannya dan orang yang mendidiknya. Rasulullah SAW bersabda ; ”Engkau (Ibu) lebih berhak terhadapnya (anak).”. Hal ini dimaksudkan agar hak anak atas pemeliharaannya disia-siakan. Jika ternya hak hadhanahnya dapat ditangani orang lain, seumpamanya nenek dan ia rela melakukannya, maka hak ibu untuk mengasuh gugur dengan sebab tersebut.
Pendidikan yang paling penting adalah anak kecil dalam pangkuan ibu-bapaknya. Karena dengan pengawasan mereka terhadapnya secara baik akan menumbuhkan jasmani dan akalnya, membersihkan jiwa dan mempersiapkan anak menhadapi kehidupannya di masa datang. Jika terjadi perpisahan terhadap orang tua, sedangkan merea memiliki anak maka ibulah yang lebih berhak terhadap anak itu daripada ayahnya, selam tidak ada suatu alasan yang mencegah ibu melakukan hadhanah tersebut.
Seorang hadhanah yang menangani dan menyelenggarakan kepentingan anak kecil, yaitu adanya kecukupan dan kecakapan yang memerlukan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut adalah:
1.      Berakal sehat.
2.      Dewasa.
3.      Mampu mendidik.
4.      Amanah dan berbudi.
Persyaratan seperti ini sukarlah dipenuhi. Kalaulah pengasuh yang disyaratkan untuk adail, maka banyak anak yang terlantar, bertambah besar kesulitan bagi umat, bertambah payah bagi pengurusnya.
5.      Islam.
Allah berfirman :
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.
Jadi hadhanah seperti perkawinan dan harta benda. Dan juga ditakutkan bahwa anak kecil yang diasuhnya itu akan dibesarkan dengan agama pengasuhnya, dididik dengan tradisi agamanya. Sehingga suka untuk si anak meninggalkan agamnaya. Hal ini merupakan bahaya yang paling besar bagi anak tersebut.
6.      Ibunya belum menikah lagi
Jika si ibu telah nikah lagi dengan laki-laki lain maka hak hadhanahnya hilang.
7.      Merdeka.
Budak biasanya sangat sibuk dengan urusan-urusab tuannya, sehingga ia tidak ada kesempatan untuk mengasuh anak kecil.
Hadhanah berhenti bila sia anak sudah tidak lagi membutuhkan pelayanan perempuan, telah dewasa dan dapat berdiri sendiri serta telah mampu mengurus sendiri kebutuhan pokoknya. Hanya saja ukuran yang dipakai adalah tamyiz dan kemampuan berdiri sendiri. Fatwa mazhan Hanafi dan lainnya yaitu ; ”Masa hadhanah berakhir bilamana si anak telah berumur 7 tahun, kalu laki-laki dan 9 tahu, kalau ia perempuan.

AKIBAT PUTUSNYA PERKAWINAN.
Berikut ini kutipan dari Undang-Undang negara Indonesia mengenai akibat putusnya pernikahan. Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:
a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik      anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada      perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi      keputusan.
b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan      pendidikan yang diperlukan anak itu, bilaman bapak dalam kenyataannya      tidak dapat memberi kewajiban tersebut pengadilan dapat menentukan      bahwa ikut memikul biaya tersebut.
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya      penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.
Kedudukan anak dalam hal ini diatura dalam :
Pasal 42
Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah.
Pasal 43
(1) Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata      dengan ibunya dan keluarga ibunya.
(2) Kedudukan anak tersebut ayat (1) di atas selanjutnya akan diatur dalam Peraturan      Pemerintah.
Pasal 44
(1) Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh isterinya,      bilamana ia dapat membuktikan bahwa isterinya telah berzina dan anak itu      akibat dari perzinaan tersebut.
(2) Pengadilan memberikan keputusan tentang sah/tidaknya anak atas permintaan      pihak yang berkepentingan.
Jadi akibat adanya perceraian (putusnya pernikahan) maka yang menjadi korban adalah anak. Anak dalam hal ini akan mengalami kegoncangan psikis yang sangat kuat. Apabila tidak dibimbing maka anak tersebut akan mengalami ganguan jiwa. Untuk itu sebelum mengambil keputusan untuk memutuskan pernikahan (bercerai) maka harus difikirkan bagaimana nasib anak di masa mendatang.

MAHRAM-MAHRAM MU’ABAD DAN MACAM-MACAMNYA.
Mahram adalah orang yang yang tidak halal untuk dinikahi. Mahram mu’abad adalah mahram yang status kemahramannya abadi (kekal), maka mahram mu’abad berjumlah 14 dan di bagi menjadi:
Tujuh orang dari pihak keturunan.
1.      Ibu dan ibunya (nenek), ibu dari bapak, dan seterusnya sampai ke atas.
2.      Anak dan cucu, dan terus ke bawah.
3.      Saudara perempuan seibu sebapak, sebapau, atau seibu saja.
4.      Saudara perempuan dari bapak.
5.      saudara perempuan dari ibu.
6.      Anak perempuan dari saudara laki-laki dan seterusnya.
7.      Anak perempuan dari saudara perempuan dan Seterusnya.
Dua orang dari sebab menyusui.
1.                  Ibu yang menyusui.
2.                  Saudara perempuan sepersusuan.
Lima orang dari sebab pernikahan.
1.                  Ibu istri (mertua).
2.                  Anak tiri, apabila sudah bercampur dengan ibunya.
3.                  Istri anak (menantu).
4.                  Istri bapak (ibu tiri).
Allah berfirman : 
Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).
  1. Haram menikahi dua orang dengan cara dikumpulkan bersama-sama, yaitu dua perempuan yang ada hubungan mahram.
Dalam hal ini tertulis dalam Al-Quran surah an-Nisaa ayat 23 : 
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

SEPERTI MAHRAM MU’AQQAD DAN MACAM-MACAMNYA.
Mahram adalah orang yang yang tidak halal untuk dinikahi. Mahram mu’aqqad adalah mahram yang status kemahramannya tidak abadi (temporial), mahram mu’aqqad dalam hal ini ada dua yaitu :
1.istri.
2. saudara ipar.
Selama masih memiliki ikatan perkawinan maka saudara ipar tidak halal untuk dinikahi, akan tetapi apabila hubungan (ikatan) pernikahan telah putus maka saudara ipar halal untuk dinikahi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar