Kamis, 03 November 2011

DAKWAH BI AL-HIKMAH


Kata hikmah dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 20 kali baik dalam bentuk nakiroh maupun ma’rifat. Bentuk masdarrnya adalah hukman yang diartikan secara makna aslinya adalah mencegah. Al-Hikmah juga berarti tali kekang pada binatang, seperti istilah hikmatu Lijam, karena Lijam (cambuk atau kekang kuda) itu digunakan untuk mencegah tindakan hewan.[1]
M. Abduh berpendapat bahwa, Hikmah adalah mengetahui rahasia dan faedah di dalam tiap-tiap hal. Hikmah juga digunakan dalam arti ucapan yang sedikit lafadz tetapi banyak makna. Ataupun diartikan meletakkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Orang yang memiliki hikma disebut al-hakim, yaitu orang yang memilki pengetahuan yang paling utama dari segala sesuatu.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat dipahami bahwa al-hikmah adalah merupakan kemampuan dan ketepatan Da’i dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u. al-hikmah merupakan kemampuan Da’i dalam menjelaskan doktrin-doktrin Islam secara realitas yang ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu, al-hikmah sebuah system yang menyatukan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam berdakwah.
Dengan dasar itu, maka hikmah berjalan pada metode yang realistis (praktis) dalam melakukan suatu perbuatan. Maksudnya, ketika seorang Da’i akan memberikan ceramah pada saat tertentu, haruslah selalu memperhatikan realitas yang terjadi siluar, naik pada tingkat intelektual, pemikiran, psikologis, maupun sosial. Semua itu menjadi acuan yang harus dipertimbangkan.
Didalam menggunakan metode dakwah dengan AL-HIKMAH, maka harus diketahui unsure-unsur penunjangnya agar dapat terlaksana seperti apa yang diharapkan. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut :



1.      Mengenal Strata Mad’u
Salah satu tanda kebesaran Allah di alam ini adalah keragaman makhluk yang bernama manusia. Allah SWT. berfirman :

13.  Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa keragaman jenis kelamin, suku, bangsa dan warna kulit dan bahasa sebagai tanda kebesaran Allah yang perlu diteliti dengan seksama untuk mengenal lebih dekat tipologi manusia untuk selanjutnya menetukan pola interaksi untu masing-masing kelompok yang berbeda. Mengemal tipologi manusia adalah salah satu factor penentu suksesnya dakwah, dan merupakan salah satu fenomena alam yang hanya bias ditangkap oleh orang alim.
Diantara cara-cara untuk mengenal tipologi manusia, dapat dilakukan dengan beberapa cara dibawah ini :
®    Mengenal Strata Mad’u Sebagai Landasan Normatif.
Salah satu makna hikmah dalam dakwah adalah menempatkan manusia sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan Allah. Si saat terjun di sebuah komunitas, atau melakukan kontak dengan seorang mad;u, da;I yang baik harus mempelajari terlebih dahulu data yang riel tentang komunitas atau pribadi yang bersangkutan.
Berikut ini adalah landasan normative tentang pola komunikasi dan interaksi dengan beragan manusia, Allah berfirman :

76.  Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, Kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.

Hasan al Bashri berkata : “Tidak ada seorang alim pun kecuali di atasnya ada orang alim lagi sampai berakhir kepada Allah.”[2] Ayat ini memberikan informasi kepada kita bahwa kadar ilmu pengetahuanmanusia bertingkat. Informasi ini sekaligus isyarat kepada kita bagaimana membangun komunikasi dengan berbagai level manusia tersebut.
®    Mengenal Rumpun Mad’u.
Banyak pendapat tentang tata cara dan bagaimana rumpun mad’u itu, akan tetapi yang sangat mendekati dengan kultur adalah pengelompokan yang di buat oleh M. Bahri Ghazali yang didasarkan kepada tipologi dan klasifikasi masyarakat. Yaitu :
Berdasarkan tipologi, masyarakat dibagi dalam lima tipe, yaitu :
a)      Tipe innovator, yaitu masyarakat yang memilki keinginan keras pada setiap fenomena sosial yang bersifat membangun, bersifat agresif dan tergolong memiliki kemampuan antisipatif dalam setiap langkah.
b)      Tipe pelopor, yaitu masyarakat yang selektif dalam menerima pembaharuan dengan pertimbangan tidak semua pembaharuan membawa perubahan yang positif.
c)      Tipe pengikut dini, yaitu masyarakat sederhana yang kadang-kadang kuran siap dengan resiko dan umumnya lemah mental. Kelompok masyarakat ini umumnya kelompok kelas dua di dalam masyarakat.
d)     Tipe pengikut akhir, yaitu masyarakat yang ekstra hati-hati sehingga berdampak kepada anggota masyarakat yang skeptis terhadap sikap pembaharuan, sehingga gerakan pembaharuan memerlukan waktu dan pendekatan yang sesuai untuk masuk.
e)      Tipe kolot, cirri-cirinya, tidak mau menerima pembaharuan sebelum mereka benar-benar terdesak oleh lingkungannya.
Berdasarkan data-data rumpun mad’u diatas, dapat dikelompokkan dengan lima tinjauan, yaitu :
a.       Mad’u ditinjau dari segi penerimaan dan penolakan ajaran islam. Terbagi dua, yaitu muslim dan non-muslim.
b.      Mad’u ditinjau dari segi pengamalan ajaran agamanya, yaitu dzalim linafsih, muqtashid dan sabiqun bilkhairat.
c.       Mad’u ditinjau dari segi tingkat pengetahuan agamanya, terbagi, ulama pembelajar dan awam.
d.      Mad’u ditinjau dari struktur sosialnya, terbagi, pemerintah, masyarakat maju dan masyarakat terbelakang.
e.       Mad’u ditinjau dari prioritas dakwah, dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, dst.

2.      Bila Harus Diam, Bila Harus Bicara.
Pribahasa “Diam itu emas dan bicara itu perak” mungkin lebih mengena pada pembicaraan kali ini, tanpa menelusuri darimana asal usul pribahasa tersebut, yang jelas makna dan arah yang dituju sejalan dengan tuntutan agama. Sekian banyak petunjuk agama yang mendorong agar seseorang selalu menimbang-nimbang segala apa yang akan diucapkannya, karena seperti firman Allah dam al-Qur’an :

19.  Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.



Mengetahui saat yang tepat kapan harus bicara dan kapan harus diam adalah bagian dari hikmah dalam berdakwah. Dalam hal ini harus diketahui beberapa tentang etika berbicara, seperti :
 
®    Adab Berbicara.
Islam memerintahkan umatnya untuk beradab dan beretika dalam berbicara. Agar pergaulan tetap baik hendaklah selalu berbicara dengan perkataan yang baik. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan :
1.      hendaklah topic pembicaraan berkisar pada hal-hal yang baik dan bermanfaat.
2.      menhindarkan diri dari pembicaraan yang jelek dan tidak bermanfaat.
3.      tidak berbohong dalam perkataannya.
4.      tidak membicarakan ‘aib orang lain.
5.      tidak mencela dan mengejek orang lain.
6.      menghindari perselisihan dan perdebatan, karena Rasulullah tidakmenyukai adanya perdebatan meski dalam hal kebaikan.
7.      tidak menyebarkan berita kebohongan.
8.      tidak menyebarkan gossip tentang orang lain.
9.      tidak bersikap sombong dan angkuh dalam berbicara.
10.  tidak boleh menguasai dan memonopoli pembicaraan dalam sebuah forum.
11.  bila ingin meluruskan permasalahan hendaknya dengan bijak , tidak menjatuhkan orang kain.
12.  hendaknya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
13.  tidak boleh mengeraskan suara dalam percakapan, sehingga menimbulkan kegaduhan dan kebisingan.
14.  menempatkan pembicaraan berdasarkan dengan situasi dan kondisi.
15.  berbicara dengan tenang, agar mudah dicermati.
16.  tidak menonjolkan kepandaian atau membanggakan diri di hadapan lawan bicara.
17.  tidak terlalu banyak bicara, sehingga membuat bosan pendengar.

®    Bila Harus Bicara.
Dakwah ditujukan kepada seluruh manusia dalam keadaan umurnya yang berbeda-beda, serta tingkat kedudukannya di masyarakat, disamping kecerdasan dan alam lingkungannya, kemauan serta jalan pikirannya, kesemuanya berlainan.
Da’i yang mendapat taufik dansukses ialah mereka yang sanggup memberikan untuk tiap-tiap individu apa yang dibutuhkannya, baik berupa buah pikiran ataupun pengarahan. Da’i berusaha meyakinkan orang tentang kebenaran apa yang disuguhkan, kemudian berusaha menarik orang supaya bergerak mengamalkan apa yang diajarkan.
Agar tidak tergelincir dalam berbicara, Da’i memerlukan empat syarat, yaitu :

a.       Memilih kata-kata yang baik saja.

Ucapan-ucapan yang bail dapat menyuburkan kasih sayang sesame manusia, mengeratkan persahabatan dan mencegah tipu daya syaitan yang berusaha merapuhkan tali perhubungan dan menimbulkan persengketaan. Oleh karena itu, dalam pergaulan sehari-hari hendaklah kita membiasaka ucapan-ucapan yang baik, terlebih bagi seorang Da’i, karena ucapan yang baik akan menghasilkan kebajikan.
Firman Allah SWT. :

53.  Dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

b.      Meletakkan pembicaraan tepat pada tempatnya dan sengaja mencari kesempatan yang benar.

Pembicaraan ytang tidak mengandung manfaat adalah pembicaraan yang terbengkalai dan tertinggal. Jika pembicaraan yang seharusnya diakhirkan, lalu didahulukan, adalah tergesa-gesa dan rusak. Jika yang semestinya didahulukan, lalu diakhirkan, adalah suatu keterlambatan dan kelemahan. Sebab setiap tempat ada pembicaraannya masing-masing dan setiap zaman juga mempunyai amalnya masing-masing.

c.       Berbicara dengan pembicaraan sekedar keperluan.

Pembicaraan yang tidak memenuhi keperluan itu ada dua, yaitu :
v  Pendek yang merusak, dan banyak yang tidak terfokus.
v  Menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang tidak jelas, sehingga tdak dipahami.
d.      Memilih kata-kata yang akan dibicarakan.
Lisan seseorang yang pembicaraannya kaku, kurang gairah, dan tidak terarah menunjukan bahwa hatinya pun seperti itu. Lisan dapat menunjukan suasana hati, sebaliknya lisan yang fasih, tegar dan penuh percaya diri merupakan gambaran kondisi hati yang tenang dan ber-semangat.
Karena sangat strategisnya peran lisan terhadap anggota tubuh lainnya, Rasulullah menganjurkan agar setiap mukmin menjaga lisannya. Menurut beliau, amal tersebut merupakan amal yang paling dicintai Allah. Selanjutnya, untuk menghasilkan ucapan yang berkualitas baik, hendaklah kita memperhatikan enam hal berikut :
1.      pikirkan terlebih dahulu materi yang akan dibicarakan.
2.      perhatikan kepada siapa materi pembicaraan itu disampaikan.
3.      cari waktu yang tepat bagi kita ataupun bagi lawan bicara kita.
4.      usahakan agar tempat yang digunakan sesuai dengan materi pembicaraan dan orang yang diajak bicara.
5.      tentukan alasan yang dirasakan lebih tepat berkenaan dengan materi, orang, tempat dan waktu bicara, agar kita dapat menentukan sikap selanjutnya.
6.      gunakan system, pola, etika dan strategi yang lebih baik agar dapat menghasilkan pembicaraan yang baik.


®    Bila Harus Diam.
Ketika Da’i mengalami masalah, dan berbicara diperkirakan akan menimbulkan antipati, maka Da’i lebih baik mengambil sikap diam. Diam diperlukan dalam empat situas :
1.      Menghindari konfrontasi.
Nabi Muhammad SAW, setelah menerima perintah Allah :

214.  Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,

Beliau mengundang anggota keluarga untuk makan bersama-sama di rumah beliau. Yang hadir ada kira-kira 40 orang, diantaranya paman beliau, Abu Lahab. Usai acara, Rasulullah SAW, siap-siap hendak menyampaikan risalah-nya. Akan tetapi, Abu Lahab memotong lebih dulu. Dengan nafsu amarah yang berapi-api dan dengan gerakan tangan yang mengancam, beliau mengkonfrontasikan Muhammad SAW, dengan para anggota keluarga yang hadir, seperti menghadapkan seorang yang tertangkap kepada pengadilan sebagai pesakit. Nabi Muhammad sebagai tuan rumah mampu mengendalikan diri serta menjaga martabatnya pada saat itu dengan tidak membalas dan bersikap diam.
Suasana simpatik dengan sikap beliau yang diam itu tidak dibiarkan berlalu begitu daja oleh Rasulullah. Beberapa hari setelah itu, belia mengundan bibi-bibinya dan para pamannya dan tidak ketinggala Abu Lahab. Selesai makan, Rasulullah segera bangun dan angkat bicara. Seketika itu pula beliau mendapat dukungan dari pamannya Abu Thalib. Cerita ini merupakan salah satu contoh dimana kita mesti mulai bicara dalam dakwah dan dimana kita perlu diam. Diamnya Nabi bukan karena tidak mampu membalas, tapi untuk menghindari konfrontasi sebagai pewaris risalah.
2.      Diam disaat perkataan tidak efektif.
Kata bukanlah segalanya dalam dakwah. Suatu saat, kata tidak bias membawa solusi. Ketika Da’i menemukan suasana di mana mad’u tidak lagi percaya dengan kata-kata yang terucap, maka Da’i lebih baik memilih diam.
Dalam keadaan kekecawaan yang mendalam karena niat melaksanakan ibadah umrah tidak kesampaian pada tahun keenam Hijryah akibat tersandung oleh perjanjian Hudaibiyah, akhirnya kata-kata Rasulullah pernah tidak efektif di mata para sahabatnya.
“Nabi SAW, dating kepada para sahabatnya dan bersabda : “Bergeraklah! Sembelihlah ternak kurban kalian, kemudian bercukurlah!”. Rasulullah mengulangi perintah ini sampai tiga kali, tetapi tak seorangpun diantara mereka yang bangkit menyambutnya. Kemudian beliau masuk kedalam kemahnya dan menceritakan kejadian tersebut kepada istri beliau, Ummu Salamah. Ummu Salamah denga bijak berkata : “Wahai Rasulullah, apakah engkau ingin agar mereka melaksanakan perintah itu? Keluarlah tetapi jangan bicara sepatah katapun dengan salah seorang diantara mereka, sembelihlah ternak kurban anda sendiri, lalu panggillah tukang cukur anda dan bercukurlah.” Rasulullah mengikuti petunjuk istrinya. Ketika kaum muslimin melihat perbuatan beliau, mereka segera bergerak beramai-ramai menyembelih ternaknya masing-masing dan saling bergantian mencukur.
3.      Diam dalam upaya menyusun taktik dan strategi.
Diam dalam bentuk ini kerapkali terjadi baik pada para pembesar negara, pemimpin masyarakat, pengasuh kepada yang diasuh dan seorang suami kepada istri dan anaknya.
Diam menyusun taktik dstrategi yang terjadi pada seorang pembesar Negara, contohnya seperti yang terjadi pada Rasulullah SAW, ketika terjadi “serangan” yang dilancarkan oleh pamannya Abu Lahab. Dengan metode diam menyusun taktik dan strategi maka Nabi SAW, terhindar dari konfrontasi yang dilancarkan pamannya dan akhirnya beliau dapat menyampaikan risalah islam kepada keluarganya.
4.      Diam dalam arti bahasa perbuatan.
Dakwah tidak harus selalu dengan kata-kata. Betapa banyak permasalahan ternyata diselesaikan bukan dengan kata-kata, ternyata dengan teladan. Perbuatan Da’i adalah salah satu bentuk dakwah. Orang lebih menyebut diam keempat ini dengan dakwah bihal.

®    Diam Yang Berdosa.
Tidak semua berbicara itu dosa dan tidak selamanya diam itu berpahala. Tidak selamanya diam itu emas dan bicara itu perak. Ada juga diam yang sampah dan menyembunyikan kebusukan. Setidaknya ada empat diam yang membawa kepada dosa.
Pertama, diam ketika kemungkaran dilakukan terang-terangan di depan kita. Nabi Muhammad SAW, mrnyebutkan salah satu yang dilaknat Allah adalah suami yang diam melihat istrinya berbuat maksiat dan sebaliknya. Al-Qur’an menyebut laknat yang ditimpakan kepada Bani Israil melaluli lidah Dawud dan Isa as. Karena mereka diam melakukan kemungkaran antara mereka; mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat (QS. 5: 78-79). Salah satu kemungkaran yang dibiarkan Bani Israil waktu itu adalah kezaliman dan penindasan. Mengizinkan kezaliman sama besar dosanya dengan melakukan kezaliman itu sendiri.
Kedua, diam itu dosa jika berkenaan dengan informasi yang diperlukan masyarakat. Rasulullah SAW, berkata : “jika seorang alim (pemilik informasi) ditanya lalu diam menyembunyikan informasinya itu, ia akan dibelenggu dengan belengu api neraka.” Berdosalah seorang berilmu yang diam, tidak mengajarkan ilmunya; seorang yang tahu jalan tidak mau memberikan petunjuk; seorang yang melihat kebusukan dan tidak melaporkannya.
Ketiga, diam yang dosa adalah tidak mau berbicara, selama berkaitan dengan keuntungan dirinya, “Tahukah kalian? Kata Jalaluddin Rumi kepada pengikutnya, “Mengapa ad-Qur’an menyebut:…… sesungguhnya suara yang paling buruk adalah suara keledai?” (QS. 31:19). Dahulu, ketika semua makhluk diciptakan, mereka diberi kemampuan mengeluarkan suara. Ketika suara mereka keluar pertama kalinya, semua makhluk memuji dan mengagungkan Tuhan, kecuali keledai. Keledai hanya suara, jika lapar dan ingin memuaskan nafsunya,” banyak orang seperti keledai.
Keempat, diamitu dosa, ketika anda tidak mengakui kesalah yang anda lakukan. Anada melakukan kesalahan yang amat-amat merugikan masyarakat. Orang banyak meminta pertanggung jawaban anda. Anda diam. Anda menjadi lautan yang isinya tidak terlhat. Anda menjadi patung yang kaku, tanpa ekspresi. Begitu anda menemukan kambing hitam, anda berteriak dengan suara yang mengalahkan halilintar.


[1] Ibnu Mandzur, Lisanul Arab, 12/141.
[2] Abu al-Fida’ Ismail bin Katsir al-Quraisy, Tafsir al-Qur’an al- Adzim, (Madinah, Maktabah al-Ulim wa al-Hikam, 1413/1993), jilid 2. h. 467.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar